SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN WAJO

Rabu, 06 November 2013

SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN WAJO

  1. Cinnottabi’
Dalam lontara Wajo disebutan bahwa yang merintis berdirinya negeri Cinnottabi’ adalah “La Paukke” putra dari Datu Cina yang kemudian berganti nama menjadi Pammana, dikisahkan bahwa setelah Boli rusak maka  La Paukke bersama para pengikutnya pergi tinggal disuatu daerah yang bernama Cinnotta’ Bangka dan kemudian dinamai menjadi Cinnottabi’. Didaerah tersebut La Paukke dan pengikutnya membuka sawah, ladang, menangkap ikan dan berburu untuk kehidupannya, dari hari ke hari daerah Cinnottabi’ menjadi daerah yang ramai dan makmur. Dan akhirnya La Paukke lalu diangkat oleh rakyat Cinnottabi’ untuk menjadi Raja ke-1 didaerah tersebut, lalu La Paukke memperistrikan putri yang bernama “I Pattola Arung Sailong Bone” dan merupakan cucu dari Arung Mampu Kerajaan Bone, dari pernikahan tersebut lahir seorang putri yang bernama “I Pannangareng”  putri I Pannangareng ini diperistri oleh “La Matatikka” saudara La Mallalae Datu Luwu.
Setelah La Paukke Arung Cinnottabi’ meninggal maka jabatan sebagai Arung Cinnottabi’ dilanjutkan oleh putri beliau yang bernama          “IPannangareng”  sebagai Arung Cinnotabi’ ke-2, setelah Arung Cinnottabi’ ke-2 meninggal lalu digantikan oleh putrinya yang bernama “I Tenri Sui” menjadi Arung Cinnottabi’ ke-3, beliau diperisti oleh La Rajalanggi To’ Patroi putra dari Datu Babauae dari kerajaan Bone, dari pernikahan tersebut beliau dikaruniahi 3 (Tiga) orang anak yang bernama : La Patiroi, La Pawawoi dan La Patongai.
La Rajallangi yang bertindak selaku wakil dari istrinya mulai mengangkat seorang pejabat yang bergelar “Matoa Pa’ bicara” di Cinnotabi’ tugas dari penjabat baru itu ialah untuk membantu Arung Cinnotabi’ didalam segala urusan-urusan pemerintahan, diantaranya mengadili perkara-perkara dan lain sebagainya. Hal itu tergambar didalam perjanjian Cinnotabi’ tatkala Matoa Pa’ bicara diangkat, dibuat satu perjanjian antara      La Rajallangi dengan Matoa Pa’ bicara bersama rakyat dilain pihak.
Matoa Pa’bicara berkata kepada La Rajallangi :
“ Salipuri temmacekke’keng puang, dongiri temmatippekeng, tanrereakkeng asalakkeng, mualakkeng atongengkkeng, asseriakkeng Abiasakeng ”
La Rajallangi menjawab :
 Iyo mato, tekkulawao rielo’mu rima’decengnge tekuampa riadammu riatongenge’ tekkuangakao llao maniang llao manorang llao alau llao urai llao riawa llao riase messu muttama ricinottabi’ sappa’ I atuo-toumu asalamakemmu, ujello’ kangko laleng madeceng muolai, asuroko mupogaui riadecengenna cinnotabi’ tessiolorengngi  maja’ sisapparemmui’ madeceng tessisappareng ja, iya’ temmasolompawoiko, iko temmangelle’ pasangia, naiya taebu’e ade’ tassamaturusie, mappaccingnge namalempu namadeceng mallebang, tapadammolai mappaolangngi takkitangngi ri dewata seuwae  ”
Setelah Arung Cinnottabi’ ke-3 dan La Rajalanggi meninggal jabatan sebagai Arung Cinnottabi’ dilanjutkan oleh putra beliau yang bernama La Patiroi sebagai Arung Cinnottabi’ ke-4, dimana masa kepemimpinan/Akkarungeng Arung Cinnottabi ini mengalami peningkatan semua sektor penghidupan rakyat didaerah tersebut  berjalan dengan lancar, hari kehari menjadi makmur dan banyak orang-orang dari negeri tetangga berdatangan untuk melanjutkan kehidupannya didaerah Cinnotabi’ ini.
Setelah Arung Cinnotabi ke-4 ini meninggal, maka rakyat Cinnottabi sepakat untuk mengangkat kedua putra beliau untuk melanjutkan Akkarungeng ayahandanya, adapun dua bersaudara ini bernama La Tenri Bali dan La Tenri Tippe sebagai Arung Cinnotabi ke-5, namun dalam proses Akkarungeng kedua Arung ini tidak berjalan mulus, karena bagaikan dua nakhoda dalam satu perahu, kesemuanya memiliki ciri Akkarungeng yang berbeda-beda.Dalam melaksanakan pemerintahan ternyata La Tenri Tippe sering berbuat sewenang-wenang akibatnya banyak rakyat lebih memilih untuk meninggalkan daerah tersebut (Sompe), meskipun La Tenri Tippe sering dinasehati oleh ketiga sepupu sekalinya yang bernama La Tenritau, La Tenripekka, La Matareng, namun nasehat-nasehat dari sepupunya tidak didegarkan juga La tenri Tippe  dari hari ke hari perilaku  makin bejat maka ketiga sepupunya memilih untuk meninggalkan Cinnotabi menuju ke daerah Boli bersama para juaknya, dan tidak berapa lama kemudian La Tenribali sendiri yang merupakan juga salah satu Arung Cinnotabi pada masa itu lebih memilih untuk meninggalkan daerah tersebut. Beliau pindah/sompe ke daerah Penrang.
2.     Lipu Tellukajuru’ E
Adapun tiga bersaudara “La Tenri Tau,  La Tenri Pekka  dan La Matareng” yang merupakan sepupu dari Arung Cinnotabi terakhir      (Arung La Tenri Tippe  dan Arung La Tenri Bali)  setelah membuka negeri yang bernama Boli yang kemudian menjadi daerah yang makmur akhirnya ketiga bersaudara sepakat untuk membagi daerah tersebut menjadi tiga negeri bagian yaitu “Majauleng, Sabbang Paru dan Takkalalla” ketiganya memimpin daerah masing-masing dengan kearifan, sehingga membuat daerah masing-masing menjadi lebih makmur dan berkembang dengan cepat. banyak orang dari luar daerah tersebut berdatangan untuk bermukim didaerah tersebut, akan tetapi kemudian ketiganya sepakat untuk mempersatukan kembali daerah masing-masing menjadi satu bagian yang disebut Lipu Tellukajuru’na, akan tetapi yang menjadi masalah siapa yang sebaiknya diangkat menjadi raja, lalu mereke teringat kepada sepupu sekalinya yang merupakan Arung Cinnotabi’ sebelumnya yang bernama La Tenri Bali yang dikenal arif bijaksana dan kini menjadi Arung Penrang.
Setelah ketiganya sepakat untuk mengangkat La Tenri Bali sebagai Arung Lipu Tellukajuruna Boli, atas perintah mereka bertiga maka diutus Matoa Pa’bicara bersama para pemuka rakyat, maka utusan tersebut pergi ke Pinrang menyampaikan maksud dari ketiga sepupu sekalinya tersebut. Dan setelah utusan ketemu dengan La Tenri Bali.
  • Ø utusan itu berkata :
Assiturusekkeng To lipu-tellukajuru’e ri Boli iko maelo’ riala Arung Mataesso, kirengrengngi ale’ biremmu, tasipauju’ madeceng ri alempure’ ta atongngengetta assitinajanna idi’ maneng, muarupekkeng, musalipuri temmacekkekkeng, mudongiri temmatippe’keng, mupaninikkeng ri maja’e tasilettukeng rimajengnge, tabicarangngi bicara malempu’ megettengngetaman’e ri Petta La Rajallangi Topatiroi namarajae Cinnottabi
Artinya :
Permufakatan kami orang-orang dari Lipu Tellukajuru’e di Boli engkau (lah) yang kami kehendaki diambil menjadi Arung Mataesso, kami akan dampingi (dukung) kebesaranmu, baiklah kita bersatu hati dengan baik atas kejujuran dan kebenaran kita yang sepantasnya untuk kita semua, peliharalah kami, selimutilah kami supaya kami jangan kedinginan, lindungilah seperti padi terhadap burung pipit dari bahaya, jauhkanlah kami dari yang buruk dan kita bersama-sama sampai kepada yang baik, bicarakanlah bicara yang lurus dan tetap yang diwarisi dari Petta La Rajallangi To Patiroi yang menjadikan Cinnotabi’ besar
  • Ø La Tenribali menjawab :
Iya, memengnatu maelo’ uwukkakekko ade’ riolo’e ri Cinnotabi’ wettunna puatta La Patiroi namana’e pole ri puatta La Rajallangi’ kkuaetopa ade’ assituruseng makaprajangngi nacolli na’daung, natakke nappaleppang napparanga-ranga, nalorong llaomaniang, llaomanorang, llaoalau, llaourai, macekke raunna riannaungi taebburengngi janci tappasabbiangngi ri Dewata Seuae
Artinya :
Memang itulah yang saya hendak buka padamu adat yang dahulu (berlaku) di Cinnotabi’ tatkala Puatta La Rajallangi, begitu pun kita mencari adat permufakatan yang dapat menjadikan negeri kita besar, bertaruk, berdaun, beranting ke seluruh penjuru, menjalar ke utara, ke selatan, ke timur, ke barat, daunnya dingin layak untuk ditempati bernaung, baiklah kita buat perjanjian yang kita persaksikan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sebelum La Tenri Bali diangkat menjadi Arung Lipu Tellukajuru’na, ketiga bersaudara berkumpul dan memutuskan untuk mengangkat dirinya masing-masing sebagai Padanreng pada ketiga negeri bagian Lipu Tellukajuruna’ Boli, kemudian bersama para segenap rakyat dinegeri bagian Majauleng berlangsunglah pelantikan La Tenri Bali menjadi Arung Mata Esso dengan hikmat tetapi sebelum pelantikan tersebut La Tenri Bali dan para rakyat Cinnotabi’ membuat suatu perjanjian yang disebut Perjanjian Majauleng yang berbunyi :
Tapada poarajangngi arajatta
Tapoalabbirengngi ale’ binetta
Tapauju madeceng rialemputta napoasengngi ade’ marajana
Arungnge ri lipu tellukajuruna
Temmakullei sirebba ade’
Tessipadde allebireng
Tessiala mana, tessikajojo pau
Tessikaremo kalobeng, tessioti itello
Tessiala bicara, tessiluka taro
Tessiwelong-wellong, tessiakkale-kelekeng
Tessijellokeng roppo-roppo, makeda siateppereng
Tessiesa-esa’, tessiliweng-liweng
Malilu sipakainge’, namadeceng namocappa’ arumpanua riawa riase
Artinya :
Kita menjunjung kebesaran kita masing-masing
Kita menghormati kemuliaan kita masing-masing
Kita bersepakat dengan baik atas dasar kejujuran kita
Itulah yang dinamai adat besarnya raja-raja di lipu tellukajuru’na
Tidak boleh kita saling merobohkan adat kita
Tidak saling memadamkan kehormatan
Tidak saling meraba keranjang ayam masing-masing
Tidak saling menangkap ikan dalam kalobeng
Tidak saling mengambil telur masing-masing
Tidak saling mengambil bicara masing-masing
Jangan saling menyembunyikan sesuatu didalam hutan
Tidak saling menunjukan kepada semak-semak
Berkata dengan dasar saling mempercayai
Jangan saling menggeserkan dan jangan saling melewati
Jika didalam keliru baiklah kita saling memperigatkan dan baiklah kita saling mengindahkan perigatan
Sehingga akhirnya tercapai suatu keadaan yang baik bagi raja dan rakyatnya.
Disaksikan oleh para rakyat Lipu Tellukajuru’na, pelantikan itu berlangsung dibawah sebatang pohon Bajo yang tinggi besar, dari nama pohon itulah asal usul dari nama “ Wajo ” sekarang

3.     Wajo
Setelah La Tenri Bali dilantik di Boli menjadi Arung MataEsso Tellukajuru’na Boli yang dilangsungkan dibawah pohon “Bajo” itu, maka sepakat pula ketiga Padanreng, Matoa Pa’bicara dan para pemuka rakyat mengubah Boli itu, adapun La Tenri Bali digelar dengan nama jabatan “ Batara Wajo” sebelum diangkat memangku jabatan itu, terlebih dahulu meletakkan jabatannya selaku Arung Penrang.
Sepeninggal La Tenri Bali sebagai Batara Wajo ke-1 yang menggantikan beliau yang menjadi Batara Wajo ke-2 ialah putranya yang bernama La MataEsso, beliaulah bersama Pa’danreng yang mengubah nama Majauleng, Sa’bamparu dan takkalalla masing-masing menjadi Bentempola, Talotenreng dan Tua. Batara wajo ke-2 ini termasyhur dalam pemerintahannya sehingga wajo menjadi lebih makmur, La MataEsso Batara Wajo   ke-2 digantikan oleh putranya yang bernama La Patteddungi Tosamallangi sebagai Batara Wajo ke-3, setelah lima tahun memerintah sebagai Batara Wajo moralnya mulai bejat, sama sekali tidak mewarisi sifat ayahnya. Beliau tidak lama memerintah karena tidak disenangi oleh rakyat, sehingga banyak orang wajo pindah ke negeri lain, karena kesewenannya lalu disuruh berhenti sebagai Batara Wajo dan kemudian dihukum mati (dibunuh) oleh rakyat untuk menebus segala dosa-dosanya, yang menggantikannya sebagai pemimpin adalah La Palewo To Palipung dengan gelar baru yaitu “Arung Matoa” dan gelar Arung Matoa inilah yang dipakai seterusnya mulai dari Arung Matoa Wajo ke-1 sampai Arung Matoa Wajo ke-45 (terakhir). Sejak berdirinya Wajo pada abad XIV sampai dengan berakhir pada abad XX jumlah Arung Matoa Wajo yang memerintah ialah 45 orang, diantara sekian jumlahnya itu yang paling berjasa memperluas wilayah kekuasaan adalah Arung Matoa wajo ke-4 La Tadampare Puang Rimanggalatung yang memerintah sekitar tahun 1491 – 1521, beliau selain dikenal sebagai negarawan, juga dikenal sebagai filsafat hukum dan ahli ekonomi. Oleh karena itu banyak negeri disekitarnya yang rela bergabung tanpa diperangi, diantaranya : Timurung, Pammana, Soppeng, Enrekang, Batulappa, sedangkan Larompong merupakan hadiah dari kerajaan Luwu untuk Wajo. Untuk jelasnya wilayah kekuasaan kerajaan Wajo pada masa Arung Matoa Wajo ke-4 La Tadampare Puang Rimanggalatung sebagai berikut :
                                                                                    Gambar Peta Kerajaan Wajo
Nama-nama daerah yang termasuk dalam wilayah kekuasan kerajaan Wajo pada tahun 1491-1521 adalah sebagai berikut :



  1. Paung
  2. Penrang
  3. Saebawi
  4. Sarinyameng
  5. Sekkanasu
  6. Wewattana
  7. Belogalung
  8. Cendana
  9. Cinnottabi’
  10. Timurung
  11. Mampu
  12. Sailong
  13. Solo’
  14. Bola
  15. Boli
  16. Wajo-wajo
  17. Kampiri atau Pammana
  18. Doping
  19. Maccoanging / Mattoanging
  20. Sajoanging
  21. Ujung
  22. Taroketeng
  23. Lapere
  24. Limoua
  25. Topade’to
  26. Paria
  27. Rumpia
  28. Macanang
  29. Attata
  30. Sakkoli
  31. Akkotengeng atau Jalang
  32. Keera
  33. Ana’ banua
  34. Lowa
  35. Tempe
  36. Singkang
  37. Tampangeng
  38. Wage
  39. Gilireng
  40. Patila
  41. Paigi
  42. Lempong
  43. Kading
  44. Jampu
  45. Canru
  46. Ugi
  47. Liu
  48. Seupe
  49. Wawolonrong
  50. Siwa
  51. Larompong
  52. Belawa
  53. Otting
  54. Rappeng
  55. Sidenreng
  56. Ogi
  57. Paraja
  58. Botto
  59. Bettao
  60. Bulu’ cenrana
  61. Bila
  62. Mojong
  63. Amparita
  64. Massepe
  65. Lompo’
  66. Malluse’ salo
  67. Lanca
  68. Duakaserae bate riattalamuru
  69. Amali
  70. Lamuru
  71. Watasoppeng
  72. Marioriawo / takkalalla
  73. Lompulle’
  74. Bariengeng
  75. Marioriawa / Batu-batu
  76. Waenio
  77. Belokka
  78. Cirowali
  79. Peneki
  80. Ceppaga
  81. Palippu
  82. Totinco
  83. Data’
  84. Lagosi
  85. Kalola
  86. Enrekang
  87. Massenrempulu’
  88. Batulappa
  89. Maiwa
  90. Kassa’
  91. Paselloreng
  92. Suppa
Selain dari Latampare Puang Rimanggalatung Arung matoa Wajo ke-4, yang dianggap salah satu pemikir kerajaan Wajo ialah La Tiringeng To Taba Arung Bettempola bersama pada Ranreng dan rakyat merumuskan hak-hak kebebasan atau kemerdekaan rakyat di La Paddeppa’
Menurut dari hasil perjanjian itu bahwa orang-orang Wajo tidak boleh dihalangi untuk melaksanakan kehendak, mengeluarkan pendapat dan bepergian kemana saja yang disukai oleh mereka, namun orang-orang Wajo harus tahu diri dan tidak bertidak melampaui batas kepatutan dan ditegaskan pula oleh La Tiringeng To Taba Arung Bettempola bahwa kebebasan itu mengandung keabadian yaitu orang-orang Wajo hanya mempertuan adat istiadat yang berdasarkan atas persetujuan mereka (Ade’ mappuraonro) dari dasar inilah sehingga lahir semboyang kerajaan Wajo yang berbunyi : Madareka To’ Wajo’ e ade’ emi napopuwang (Orang Wajo Merdeka hanya hukumlah yang dipertuan), selain dari kesemua arung matowa diatas, kemajuan kerajaan wajo juga dibawah kepemimpinan, Arung Matoa La Mungkace Toaddamang, Arung Matoa La Sangkuru Patau, Arung Matoa La Salewangeng  To Tenrirowa, Arung Matoa La Maddukelleng pada masa kepemerintahan La Maddukelleng inilah ditetapkan hari jadi tanah wajo tepatnya pada tanggal 29 Maret tepatnya di daerah Lagosi  jadi makanya tanah Wajo juga dikenal dengan sebutan Bumi La Maddukelleng, Arung Matoa La Pariusi To Maddualeng,
Sedangkan pada masa pemerintahan Arung Matoa Wajo ke-23 La Tenrilai  To Senggeng yang merupakan sekutu dari Somba Gowa Sultan Hasanuddin, takkala berlangsung perjanjian Bugaya pada tanggal 18 Nopember 1667, menolak dengan keras terhadap akan diadakannya perjanjian itu, perjanjian itu merupakan suatu kekalahan total atau suatu tanda menyerah pada VOC-Belanda, beliau tidak mau menandatangani naskah perjanjian itu.
Berkata Arung Matoa Wajo La Tenrilai To Sengngeng kepada Somba Gowa Sultan Hasanuddin :
“Kalau laskar saya sepuluh ribu orang banyaknya itu sudah habis semuanya tewas, barulah saya mau menyerah”
Mendegar sikap tegas Arung Matoa Wajo To Sengngeng itu, Sultan Hasanuddin dengan amat terharu berkata :
“Kembalilah ke Wajo dan engkau carikan kebaikan negerimu, agar supaya masih ada juga orang Wajo tinggal untuk diambil selaku bibit, akan tetapi seratus ribu hutang jiwanya Gowa kepada Wajo”
Dengan penuh kekecewaan dan tekad yang mendalam, kembalilah To Sengngeng ke kerajaan Wajo beserta pasukannya dengan meninggalkan 505 pasukan Wajo yang gugur dimedan  pertempuran melawan serangan VOC, ketika menyerang Banteng Somba Opu, dan beliau tak gentar sedikit pun mendegar ucapan Mangkau Bone La Tenri Tatta Arung Palakka setelah perjanjian itu sudah ditanda tangani oleh Sultan Hasanuddin Somba Gowa, bahwa : “ Peperangan sudah berakhir Karaeng, akan tetapi peperangan saya dengan keluargaku orang Wajo belum selesai”. Adapun La Tenrilai To Sengngeng setibanya di Tosora ibukota kerajaan Wajo, segera mengkonsolidasi kedalam kekuatan yang ada, ia membuat benteng-benteng sekeliling Tosora serta siap siaga menunggu revans/serangan Speelman dan La Tenri Tatta Arung Palakka.
Tidak berapa lama kemudian apa yang telah pernah diucapkan Arung Palakka sehabis  menyaksikan perjanjian Bungaya kepada Sultan Hasanuddin, akhirnya menjadi kenyataan, Tosora Ibu Kota kerajaan Wajo mulai dikepung dari segala penjuru selama tiga tahun oleh Speelman dan Arung Palakka, sehingga benar-benar melemahkan moril To Sengngeng, kemudian tidak berapa lama kemudian dalam tahun 1670 Arung Palakka melakukan serangan besar-besaran yang tak kalah hebatnya takkala menyerang benteng Barombong dan Benteng Somba Opu, pertempuran berlangsung dengan amat sengit sekali. Tosora dibakar habis, empat hari empat malam berlangsung pertempuran terus-menerus dimana kedua belah pihak mengalami ribuan jiwa yang korban, ibukota kerajaan Wajo telah menjadi lautan darah sekaligus lautan api, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata betapa seramnya pertempuran di Tosora pada masa itu, dimana To Sengngeng sendiri tewas dalam pertempuran sebagai monumen kecintaan kemerdekaan, yang menggantikan To Sengngeng ialah La Palili To Malu’ Puannna Gella, yang begitu selesai dilantik segera melanjutkan peperangan melawan kerajan Bone dan Kompeni Belanda. Akan tetapi akhirnya juga dikalahkan oleh sebab memang sejak jatuhnya Tosora, laskar Wajo sudah tidak terkoordinasi lagi.
Demikian maka pada tanggal 23 Desember 1670 ditandatanganilah perjanjian penyerahan. Dipihak Wajo hadir tiga delegasi Wajo terdiri dari “Cakkuridi Wajo, Patola Wajo dan Pilla Wajo” ketiganya adalah panglima besar kerajaan Wajo, pada acara penandatanganan perjanjian itu hadir La Tenri Tatta Arung Palakka To Unru, dan beberapa raja-raja lainnya. Adapun isi dari perjanjian itu adalah :
Wajo berjanji senantiasa setia pada VOC, dalam pengangkatan atau pemecatan Arung Matoa Wajo VOC harus memberikan persetujuannya, Wajo tidak boleh lagi mendirikan benteng-benteng, mengadakan perhubungan dengan Negara-negara asing selain dari Belanda, mengakui perjanjia Bungaya da membayar upeti (pajak) kepada VOC sejumlah 52.000 real dan harus dibayar dalam empat angsuran tiap tahun”. Dari hasil perjanjian ini merupakan awal dari beban (penderitaan) rakyat Wajo. Oleh sebab itu banyak diantaranya yang meninggalkan kampung halaman, tercerai-berai menuju negeri-negeri yang dianggap aman dan bisa ditempati untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya (Malleke’ dapureng), negeri-negeri yang mereka tempati seperti Mandar, Luwu, Enrekang, Makassar, Sumbawa, Kalimantan, Jawa, Sumatera, Selanggor dan Johor. Makanya sampai sekarang ini penyebaran orang-orang bugis bisa kita dapatkan di beberapa daerah yang ada di nusantara ini. Adapun luas dari wilayah Wajo 250.619 hektar. Selain itu orang-orang Wajo juga disebutkan memiliki “Wawang Asogireng” (Naiya To Wajoe riwe’re’i  Asogireng) makanya orang-orang wajo seolah-olah barulah terhormat apabila berhasil mendapatkan kekayaan di dunia, jadi jangan heran jika orang-orang wajo mengejar kekayaan dengan selalu berpengang pada ungkapan “ Resopa Temmangingi naMalomo Naletei Pammase Dewata

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Blogroll

About

Blogger news