TEORI PERANG BUBAT

Jumat, 28 Februari 2014


ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON
Created by Ejang Hadian Ridwan

Bagian I Analisa Kitab Kidung Sunda
Kalau memang asumsinya perang dilapangan luas Bubat atau yang sering disebut “Perang Bubat” antara kerajaan Majapahit dengan kerajaan Sunda Galuh ini benar-benar terjadi, semua pihak harus menerimanya secara elegan bahwa ini adalah bagian dari peristiwa sejarah yang harus dihormati keberadaanya. Tidak seharusnya dijadikan sentimen kesukuan, dan terlalu picik bila ini dipandang sebagai dendam kesukuan, tidak ada kaitannya, karena mungkin ini adalah proses sejarah yang bisa jadi menentukan keberadaan bangsa Indonesia masa kini.
Banyak hal yang didapat dan merupakan informasi penting sebenarnya dari kitab kidung Sunda, kalau kita analisa lebih teliti.  Kitab Kidung Sunda ini merupakan salah satu sumber referensi penguat adanya perang Bubat selain kitab Pararaton dan Wangsakerta, walau kitab resmi kerajaan Majapahit yaitu kitab Nagarakertagama yang sama sekali tidak menyinggung peristiwa besar itu, bahkan dalam kisah perjalanan Bujangga Manik pun tidak disinggung mengenai peristiwa Bubat ini. Penulis tidak menganalisa sumber kitab Wangsakerta, karena kitab ini baru muncul belum lama dan masih dalam proses penelitian keasliannya oleh para ahli sejarah. Hanya kitab Kidung Sunda dan kitab Pararaton yang ingin penulis ajukan untuk analisa kisah perang Bubat ini.

Pupuh I dari kitab kidung Sunda disebutkan nama raja kerajaan Majapahit (Wilwatikta, bahasa sansekerta) yaitu Hayam Wuruk, nama Hayam Wuruk ini sendiri diangkat juga oleh kitab Pararaton, dan sumber lainya, inilah kaitannya mengapa boleh dikatakan bahwa kitab Kidung Sunda dan Pararaton adalah 2 kitab saling menguatkan dan mendukung untuk kisah atau peristiwa perang Bubat, karena ada kesamaan para pelaku sejarah didalamnya.
Informasi lainnya yang bisa dianalisa seperti hal-hal yang berbau mistis yang secara kemanusiaan itu mustahil dan tidak masuk logika, tentang Gajah Mada yang moksa (red - menghilang dari penglihatan kasat mata) seperti petikan terjemahan kitab Kidung Sunda sebagai berikut ini:
"Maka beliau (red-Gajah Mada) mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala)
Kitab Kidung Sunda dilihat dari seluruh isinya berupa narasi untuk sebuah kisah, lebih kearah fiksi fantasi artinya ada hayalan imaginer dari si pembuat atas peristiwa yang diceritakan, seperti petikan diatas. Tentu saja kebenaran sejarah untuk narasi seperti ini sangat diragukan, bisa jadi tidak ada nilai sejarahnya, bisa jadi pula bahwa perang Bubat ini hanyalah atau rekayasa mengikuti cerita sebelumnya.
Terjemahan kitab Kidung Sunda ini diterbitan oleh C.C Breg (sejarawan Belanda) tahun 1927-1928 bersama dengan kitab Kidung Sundayana. Kitab ini diterbitkan setelah  kitab pertama yang memuat kejadian serupa mengenai perang Bubat yang diterbitkan terlebih dahulu yaitu kitab Pararaton, yang merupakan hasil penelitian dan terjemahan DR JLA Brandes (peneliti sejarah Belanda yang paham bahasa Kawi-Jawa kuno) tahun 1902 dan digubah oleh para Sarjana yang belum ketahuan identitasnya tahun 1920. (silakan baca artikel Dusta Sejarah Kitab Pararaton supaya lebih jelas). 
Catatan: teks naskah Pararaton ada dalam list Dokumen Sejarah dalam tampilan website ini, silakan di cek, serta terjemahanya ada di arsip dokumen (untuk sementara).
Baiklah dalam hal ini tidak akan diperdalam lebih lanjut mengenai keaslian, kebenaran atau kepalsuan dari kitab Kidung Sunda dan Pararaton, tetapi lebih fokus menganalisa isi yang disampaikan oleh kitab Kidung Sunda dan Pararaton mengenai kejadian atau peristiwa perang Bubat, mari perhatikan petikan dari terjemahan kitab Kidung Sunda sebagai berikut:
Kitab Kidung Sunda (terjemahan) Pupuh I :
Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka (red, rombongan kerajaan Sunda) bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil. Kapal jung. Ada kemungkinan rombongan orang Sunda menaiki kapal semacam ini. Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)”.
Informasi penting yang diperoleh dari sebagian petikan terjemahan kitab Kidung Sunda diatas, salah satunya yaitu mengenai jumlah armada rombongan dari kerajaan Sunda Galuh. Rombongan itu memakai armada kapal yang terdiri dari 200 buah kapal ukuran kecil dengan jumlah total keseluruhan armada itu sekitar 2.000 buah kapal, terdiri dari sebagian besar jumlah kapal dalam ukuran besar dan ditambah 200 kapal dalam ukuran kecil.

Hitungan matematis sederhananya seperti berikut ini : misalkan 1 buah perahu rata-rata memuat atau membawa awak 10 orang, artinya jumlah rombongan dari kerajaan Sunda Galuh (gabungan kerajaan Sunda dan Galuh) sekitar 20.000 orang awak, ini tentunya suatu jumlah yang terlalu overdosis atau berlebihan untuk sebuah acara perkawinan.
Bayangkan atau misalkan lagi, kalau muatannya dalam 1 buah perahu minimal mengangkut rata-rata awak 20 orang, berarti jumlah rombongan bisa mencapai lebih dari 40.000 orang awak, dan itu juga bukanlah jumlah sedikit dan lebih besar dari hitung-hitungan pertama, jumlah itu diperkirakan cukup untuk sebuah rencana penyerangan terhadapa suatu negara atau kerajaan lain pada saat itu.
Perjalanan berlayar dari tanah Sunda ke tanah Jawa ujung timur dengan hanya memakai kapal-kapal manual atau memakai tenaga manusia, pasti bukanlah jenis kapal-kapal atau perahu-perahu kecil yang digunakan. Lebih tepat sebutan kapal, dan kapal-kapal ini mestinya harus bisa memuat jumlah personil atau awak lebih dari 30 orang dalam 1 buah perahu. Dilakukan perhitungan lagi dengan asumsi rata-rata 1 buah kapal memuat awak 30 orang, maka jumlah total orang akan mencapai jumlah kisaran lebih dari 60.000 orang. Jumlah yang cukup fantastis dan ideal untuk sebuah rencana penyerangan besar, sekaligus membumihanguskan kerajaan seperti Majapahit, yang notabene mereka sedang sibuk melakukan invasi ke luar wilayah kerajaannya.
Teknologi maritim atau tehnologi pembuatan kapal, lalu kemudian disesuaikan dengan keberadaan kerjaan Sunda Galuh yang mengalami masa perdamainya hingga ratusan tahun lamanya, tentunya pembuatan kapal dan pencapaian tehnologinya, akan sangat dimungkinkan. Kapal-kapal itu bisa jadi hasil usaha dengan cara membeli dari negara lain, seperti yang diungkapkan bahwa kapal-kapal besar yang digunakan mirip dengan kapal-kapal yang dipakai oleh tentara Mongol pada waktu menyerang kerajaan Kediri masa pemerintahan Jayakatwang. Kerajaan Kediri sendiri asalnya kerajaan Singhosari tapi direbut kekuasannya oleh Jayakatwang dari sepupu, ipar atau besannya sendiri yaitu Sri Kertanegara.
Kerajaan Sunda Galuh sebelumnya sudah mempunyai hubungan kedekatan sejarah dengan kerajaan dari Sumatera yaitu Sriwijaya, yang terkenal mempunyai teknologi maritim yang unggul, selain itu ditambah lagi dengan pendanaan yang cukup untuk membeli atau membuat kapal-kapal sejumlah itu, karena kerajaan Sunda Galuh adalah kerajaan yang kaya dan makmur.

Tradisi Jawa atau dimana pun dalam pernikahan, pihak laki-laki tentunya yang harus datang ke tempat pihak si calon istri, bukan malah sebaliknya. Seandainya raja Sunda Galuh dan pasukannya pada kisah kitab Kidung Sunda itu dikatakan merasa terhina sebagai alasan untuk berperang pada saat itu, dengan diceritakan bahwa mereka harus dan diminta takluk secara militer oleh Gajah Mada sesampainya dilapangan Bubat, maka secara logika atau akal sebenarnya itu tidak mungkin, kalau hanya alasanya terhina seperti itu. Raja Sunda Galuh Sri Maharaja Linggabuana (Prabu Wangi, sebutan lainnya) semenjak awal harusnya sudah merasa terhinakan diri dan kerajaannya dengan kedatangan untuk mengantar sang putri Citraresmi sebagai calon istri raja Majapahit Hayam Wuruk.
Kisah ini paradoks dan tidak selaras tentunya, tidak bisa diterima. Walau pun mungkin pada daerah-daerah  tertentu atau  kondisi khusus ada yang seperti itu yaitu si pihak calon istri yang datang ke pihak laki-laki, tapi hal tersebut tidak bisa dikatakan sebagai kebenaran umum.
Terjemahan kitab Kidung Sunda juga membahas tentang Mahapatih Gajah Mada yang disalahkan oleh para seniornya (para penguasa Wilayah Daha dan Kahuripan, kerjaan bawahan Majapahit) dikeraton kerajaan Majapahit, yang merupakan paman dari Sri Rajasa alias Hayam Wuruk, yaitu ketika berakhirnya perang Bubat tentang penyebab terjadinya tragedi itu. Pertanyaanya, mengapa pula dalam terjemahan kitab kidung Sunda dinyatakan bahwa diantara pimpinan Sunda Galuh termasuk rajanya yang terbunuh, merekalah (para senior) yang melakukannya? mungkin bisa jadi karena terpaksa mengatas namakan bela negara. Satu hal lagi, ketika peristiwa itu berlangsung, suatu hal yang tidak singkron satu sama lain yaitu Hayam Wuruk ternyata ikut serta dalam peperangan itu, alasan yang sama mungkin atas nama bela negara.
Hal yang menjadikan kisah ini tidak realistik adalah karena kelihatan jelas ada sisi fantasi si pengarang. Dalam hal kenyataan perang sesungguhnya, siapapun bisa saling membunuh, tidak hanya para pembesar kerajaan dengan pembesar kerajaan lawannya, tetapi prajurit biasa pun bisa membunuh seorang raja dan sebaliknya atau bisa jadi mereka, para pembesar itu, tidak terbunuh langsung, tapi karena terkena senjata yang bisa dipakai dengan jarak jauh, panah atau tombak biasanya pada masa itu.
Patut diperhatikan petikan awal terjemahan kitab Kidung Sunda, puhuh I, sebagai berikut "
"Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah".
Dan juga petikan sebagian pupuh II, sebagai berikut :
"Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat serdadu Sunda"
Petikan diatas memberikan keterangan jelas bahwa pengarang kitab Kidung Sunda, tidak memahami sama sekali tentang sejarah, coba perhatikan petikan yang dikasih bold dan garis bawah, terdapat informasi tentang paman Hayam Wuruk yaitu raja Kahuripan dan raja Daha, dan merekalah yang menewaskan raja Sunda.
Padahal raja Kahuripan pada waktu itu tiada lain adalah ibunda Hayam Wuruk, yakni Bhre Kahuripan Tribhuwana Tunggadewi dan raja Daha adik kandung Tribhuwana Tunggadewi, yakni Bhre Daha Rajadewi Maharajasa, berarti bibinya Hayam Wuruk, lebih lanjut si pengarang tidak memahami juga nama raja Sunda Galuh.
 
Apakah mungkin, yang membunuh raja Sunda dalam perang Bubat adalah ibu dan bibi raja besar Majapahit? Sebutan paman hanya cocok untuk suami bibi raja Hayam Wuruk, tapi untuk suami ibunya sebutan paman tidaklah cocok. Sungguh kecerobohan yang fatal dan luar biasa naif dari si pengarang. Apakah C.C. Breg yang notabene mengatasnamakan ahli sejarah atau sejarawan Belanda dengan begitu mudahnya mengangkat topik perang Bubat hanya berdasarkan cerita kitab Kidung Sunda sebagai bahan disertasinya tahun 1927-1928, layakkah disebut ahli sejarahwan yang independen dan bisa dipercaya?
Sedangkan banyak karya-karya C.C Breg dan opini-opininya yang mempengaruhi catatan sejarah nusantara. Wajarkah kalau  C.C Breg disejajarkan dengan Dr. Christiaan Snouck Hurgronje, yang terkenal dengan siasat Snouck Hurgronje dalam perang Aceh?
Apakah wajar juga kalau terjadi kecurigaan terhadap kitab-kitab atau naskah-naskah kuno, yang tidak jelas pengarangnya (anomim), sebagai bentuk pencarian tentang kebenaran sejarah. Contoh kitab Kidung Sunda, sudah teramat nyata bahwa kitab ini sepatutnya tidak bisa dipercaya, terlalu gegabah kalau sejarah disandarkan dengan memakai referensi kitab atau naskah seperti ini.

2 komentar:

BAH RANI mengatakan...

DE VIDE AT IMPERA yang tren sekarang adalah memasukkan istilah "kebhinekaan" dalam pola pikir bangsa..hati hati

BAH RANI mengatakan...

DE VIDE AT IMPERA yang tren sekarang adalah memasukkan istilah "kebhinekaan" dalam pola pikir bangsa..hati hati

Posting Komentar

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Blogroll

About

Blogger news